Selasa, 07 Juli 2015

cerita tentang remah-remah yang bertebaran dilantaimu

aku tak suka diabaikan, bukan kah kau juga begitu?
atau setidaknya, untuk mu tak masalah ada atau tidak nya aku bukan, karena kau belum pernah membutuhkanku. setidaknya begitu ucapan yang kuterima darimu, walaupun entah kepercayaan atau hanya kepedean, perasaan ku merasakan hal yang lain, mungkin karena rasaku terlalu subjektif.

lalu, cinta mu yang kadang-kadang sudah tak ada sisanya? sudah tercerabut dari akarnya mungkin, atau malah kau sendiri yang mencabut nya dengan sengaja hai kau yang sering kusebut Pagi?

beberapa hari mencoba menahan diri, mengkomunikasikanmu seadanya, karena ternyata begitu mau mu bukan? bahkan kau tak memulai percakapan apapun jika tak mulai ditanya. apalagi yang mau kita elakkan? elakkan yang selalu kita pikirkan masing-masing bukan?

apa aku terbuai mimpiku sendiri? 

aku bukan orang yang mampu dan cukup lihai membuat orang percaya akan mimpi-mimpi.



-o0o-

*konfrontasi..


"masih mencinta?"

"ya, tentu, mungkin melebihi yang sebelum-sebelumnya"

"bagaimana bisa?"

"entahlah"

 "bahkan ketika tak ada yang membaik dari sebelum-sebelumnya?"

"begitukah?"


"pernah kah kau memikirkan bagaimana beratnya dia untuk bersama dengan mu? ketidaksanggupannya terhadapmu? pernah kah kau peka terhadapnya, dan tak hanya memandang dari sudut pandangmu saja?"

"pernah, tapi aku tak sanggup berfikir sepertinya, memendamnya sendirian, aku, walaupun kebanyakan salah bahkan tak sesuai tetap mencoba mengumbar segala keresahan jika memang resahlah yang terasa"

"lalu, bukan kah ia tak memenuhi kriteria keterbukaan, bahkan seringkalinya hanya membuat kau merasa-rasa rasa yang membuatmu sedih?"

"tabiatnya, entahlah mungkin karena aku sudah terlalu bersiap menghadapinya, terlebih dari sejarah-sejarah ia yang dari kenangan-kenangan nya?"

"pernah kah kamu merasa ia tidak mengenalmu?"

"tentu saja, bagiku baik dan buruk itu tidak ada"

"pernah kah kau memikirkan mengapa ia selalu mudah gampang uring-uringan dengan mu?"

"ya, selalu, ia selalu kupikirkan, namun tak pernah merasa dipikirkan, selalu merasa aku hanya melakukan mencintainya sesuka hati ku, dan semua tergantung padaku, bagaimana tidak jika memang semua hanya bisa terjawab dengan terkaan-terkaan yang hanya bisa kurekayasa sendiri di otak ku, karena begitu banyak pertanyaan sederhana ku tak terjawab, sengaja tak dijawab, bukankah setidak penting itu keberadaanku."

"kamu memang tidak peka dan tidak mengerti perasaannya"

"ya memang, bukankah aku terlalu bodoh untuk mengerti semua tentangmu, sampai kapan pun makhluk seperti ku tak kan mampu mengerti, kuulangi, aku memang tak pernah mengerti. Terlebih aku tak  mengerti apa yang selalu kau fikirkan dalam logika dan rasamu." 

"lalu mengapa akhir-akhir ini kau tak mengejar pertemuan dengan nya?"

"mungkin, aku tak punya alasan! Meskipun rindu ini menyiksa dan membutuhkan dia tapi aku tak mempunyai alasan untuk bertemu selain hanya rasa-rasaku, bukan kah dia justru membatasi pertemuan bukan, walaupun katanya tak ingin aku kelelahan karena jarak yang jauh lah, atau kah karena memang tak ada yang dibutuhkannya dariku, sehingga bertemu pun aku merasa terhambat, entah oleh ku sendiri atau oleh nya, aku bahkan sudah tak lagi tau apa-apa saja yang dilakukannya kemudian setelah nya, setelah yang tak ada aku dihadapannya, dkemudian ia sering merasa aku mempersalahkannya atas semua hal yang terjadi."  

"Persetan dengan alasanmu itu! Bukankah rindu mu juga bisa kau jadikan alasan untuk menemuinya, menujunya, bahasa yang biasa kau gunakan? Lalu apalagi yang kau khawatirkan, kau resahkan, kau terka-terka?" 

 "Kau salah. Aku memang bisa menjadikan rindu itu sebagai alasan seperti yang sudah-sudah, tapi, bagaimana dengan nya, bukankah jika begitu hanya aku yang punya alasan bertemu dengannya, hanya aku yang ingin bertemu, lalu ia tak punya alasan lagi untuk bertemu dengan ku, mungkin aku sedang mencoba meresapi perasaannya."

"Dasar egois, kau hanya berpikir terlalu jauh bahkan ketika dia diam. mungkin saja disana ia sedang menunggu, mungkin saja ia juga merindu, hanya saja ia bukan lah orang yang mau mengatakannya."

"huh, mungkin saja, mungkin juga tidak, aku tak mau mengada-ada kan hal yang tiada.
 jika mungkin ia tidak sedang menunggu ataupun merindu, masihkah aku dapat menujunya?"

"Memang! Tapi itu lebih baik daripada dirimu yang hanya bisa menunggu, memendam, lalu hanya menerka-nerka segalanya dalam pikiranmu.
. Kau lemah! Kau bodoh! Kau naif! Lihat dirimu sekarang, menjijikan, manusia rendahan."

"Aku tak lemah! 
 Aku hanya tak ingin kemungkinan buruk yang ia sudah tak ada lagi dihariku itu terjadi."

"Kalau begitu kau egois. Kau hanya mementingkan perasaanmu sendiri. Jika kemungkinan terburuk itu yang datang, hadapilah. Bukankah kau juga pernah melampaui pikiran buruk mu terhadap ia yang katamu tak tergapai ini?
Kau hanya terlalu takut jatuh sebelum mulai melangkah. Jika terus seperti ini kau hanya mengingkari perasaanmu sendiri. Kau hanya akan terus terbasahi air mata mu sendiri yang selalu kau jatuhkan sebelum tidur mu itu."
 
"Lalu aku harus apa? Aku harus bagaimana? Mudah kau untuk bicara, karena kau tak pernah merasakan berada di posisiku. Kau tak pernah merasakan jatuh cinta itu ku yang seperti ini bukan, yang dengan mudah ia jatuh kan pada frase tak berbatas."

"jika begitu menurutmu, lantas mengapa kau tak mau menghapuskan rasamu padanya?"

"menghapusnya? sungguh tak pernah kupikirkan dan tak ingin kupikirkan, menyuruhku tidak mencintai lagi sama saja dengan saran mengecewakan yang tak kubutuhkan. bahkan mengapa begitu banyak orang yang mengenalnya menyarankan itu padaku?"

"Sungguh aku bingung dengan perkataanmu, dengan sikapmu. Semuanya berlawanan dengan berbagai hal yang mungkin belum pernah kuketahui"


"Sudahlah memang tak semua hal di dunia ini dapat kita mengerti. Tentang hati misalnya."  

"Lalu?" 

"Apa?" 

"Masih mencinta?"

"Ya, lebih dari biasanya"








Jumat, 03 Juli 2015

Menyapa Draft

membuka berbagai draft yang tak tersampaikan..
mungkin belum atau sudah tak kan perlu lagi kau untuk tau..
anggaplah aku sekedar menulis saja. hanya segitu otak mu mampu menyerapnya :)
setiap kisah yang dilabeli rata-rata.
lalu untuk apa aku menuliskan tak pernah sebanyak yang sudah-sudah.
sudahlah.
hanya kata-kata yang selalu abadi.

apa kau tau baik dan buruk itu tidak ada?
persepsi lah yang membentuk semua itu.
kau, pasti tidak tau!
kita begitu berbeda dalam banyak hal, mengapa aku mengimani mencintaimu.
kau tak kan kubiarkan tau.
tak kan kuperkenalkan.

kepercayaan tidak ditumbuhkan dengan meminta-minta
membebaskan siapapun menginterpretasikan diri, diriku, kau, siapapun
buruk dan baik aku tak ada kepentingan ku atas apa yang dipikirkan orang lain
ketika tak percaya padaku, silahkan saja menerka seenaknya, sekali lagi tak ada rugi nya di aku
aku tak kan berbaik-baik pada segala, aku akan tetap begini :)
meyakinkan orang bagiku hanya menguras energi! lalu, apa kau tak mau memberikan sedikit lagi energi mu untuk menjawab keresahan orang yang kau sayangi? aaaah, basi. untuk apa diyakinkan ketika memang segala sesuatu telah disekat sesuai dengan otak nya dan otak orang-orang yang berkepentingan terhadap kisah yang diyakini masing-masing.
biarlah, diriku untuk diriku sendiri. yakin itu diimani, bukan di minta-minta.

Selasa, 30 Juni 2015

ada kesal yang tergesa berkumpul melalui kosa kata

hingga pada suhu tubuh yang memanas, hawa yang lebih dingin dari biasanya, tubuh yang gemetar hebat menyembunyikan emosi tak tertahankan, aku tumpahkan segala kebajingan repetasi.

lalu dua nafas yang saling menimpali kata-kata yang tak dibutuhkan kembali tak menemukan kesempatan untuk saling menemukan. 

satu nafas tak ingin menyerah, nafas yang lainnya dengan mudah menggelintirkan kata-kata untuk ditinggalkan. mungkin karena satu nafas yang adalah nafasku bukan lah nafas yang selalu kau ingat-ingat pengulangan tersengalnya. mungkin bukan nafas, hanya dengkuran pengganggu istirahat mu kah cinta?

Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kataKetika kita berduaHanya aku yang bisa bertanyaMungkinkah kau tahu jawabnya

Malam jadi saksinyaKita berdua diantara kataYang tak terucapBerharap waktu membawa keberanianUntuk datang membawa jawaban

Mungkinkah kita ada kesempatanUcapkan janji takkan berpisah selamanya

entah aku mencerca, atau mengutuki, timpalan kata membaluri luka, membasuh luka perih bagai cuka, menjatuhkan luka ingatan pada kesedihan mutlak tak berguna! air mata, yang tak pernah jatuh di hatimu.
kalau ditanya mengenai iman, mencintaimu bagaikan keimanan, mencintai tanpa ragu.
andaikan semua tanya ku, ku utara kan padamu, aku tak sudi jika hanya kau diamkan. tak sudi jika jawab mu hanyalah ba bi bu ini itu yang sering pun hanya kau tertawai aku.
menangisimu, lagi. aku berhenti menangis, bukan karena luka ku hilang.
dimana salahmu dimana salahku, sedikit sensi kecil pasti selalu membesar hanya karena hiasan emosi, padaku, padamu, kita sama-sama dapat mengutuki masing-masing dengan mudah bukan, yah tentu,  dengan segala egois yang tinggi cinta bernalar tak lagi dapat diukur, bahkan dengan bangga label tak tergapai kembali kau bubuhkan.
kau fikir hebat semua ini?
pernah kau susuri rindu? rindu ku, rindu mu padaku, rinduku padamu, atau kau malah tersesat menyusuri jalan rindu lain yang bukan aku? lain kali, terima lah kompas yang ku pinjamkan. jangan tersesat.

cinta sudah. benci sudah

Jangan lupa.
Mungkin kita menyimpan dendam yang sama.
benci sudah.
Jangan lupa.
Kita semua bisa bersiasat.
kita semua ahli ilusi.
jangan lupa.
 Aku tak mencari nyaman.
aku menantang keberanian.
menciptakan kegilaan.
membiarkan apapun :)
Meniadakan apapun.
tak kan terkejar.
aku sedang sibuk menerka kebenaran.
kebenaran tak kan berarti apapun jika tak diperjuangkan untuk menjadi benar.
tak usah berpura-pura.
kau sudah telanjang.
Hegemoni mana yang kau pertahankan.
kuasaku kulahirkan.
hanya seperti ini?
Hanya segini saja?
Dari mana awalnya?
semua begitu remeh temeh.
Semua sibuk bersuara.
semua sibuk mencitra.
sibuk menempatkan diri pada interpretasi yang tidak ada.
aku sibuk mencipta puisi yang sudah-sudah
Mari mendominasi dunia.
Bolehlah sesekali kusibukkan diri juga dengan berpura-pura.


Senin, 29 Juni 2015

biarkan cinta berbohong; (surat) protes II

syarat membaca tulisanku kali ini adalah, setelahnya kau tak perlu membenciku seumur hidupmu; kau harus mulai mencintaiku lekat-lekat. jika tak bisa, tak usah kau baca! sekali lagi toh hanya sekedar tulisan yang bagimu tak ada hebatnya sama sekali, hanya menempatkanmu pada cerita singkat tak berarti, katamu. 

Lama tak menulis, apa sudah tak ada lagi yang bisa dituliskan? tentu saja tak mungkin, aku masih menyibukkan diri mengingatimu dan menuliskan mu kata per kata, kalimat per kalimat, halaman per halaman, kisah per kisah.

pernahkah kau bertanya bagaimana bisa aku terus menuliskanmu?

berkali-kali menyibukkan diri mengecek handphone, berharap ada pesan dari mu, begitulah rutinitasku mencari mu kala tak ada kau dihadapanku, dipelukanku..  entah kala kau belum bangun dari tidur mu, atau kah kau sedang bersibuk dengan aktivitasmu bahkan cita-citamu, cinta-cintamu. WHO KNOWS! sial, aku terbawa sikap burukmu, menyinyiri setiap manusia. aku tak suka.

melepaskan harapan adalah awal dari kebebasan. bagaimana menurutmu? bukankah harapan penting bagimu? ah sudahlah, seberapa banyak pun kutuliskan berbagai tanda tanya di tulisan-tulisan yang terserak ini toh tak ada satupun bukan yang kau jawab dengan tanda seru atau pun tanda baca lainnya, toh kau bilang tak kan bisa dijawab dengan cara seperti ini. lalu apa yang kau bisa? sekedar membacanya dalam hati, lalu mungkin berucap 'oh' karena telah mengetahui dan membacanya? BENAR BEGITU? yah, mungkin kita sekedar membaca, lalu sekedar menuliskan, sambil sesekali bercerita seperlunya, mungkin cerita yang sayang jika terlupa, agar kedepannya masih ada yang bisa diingat, entah akan hanya menadi sisa-sisa kebersamaan, ataukah kita mengingatnya bersama sambil tetap saling memeluk erat. bukankah begitu? lalu, kapan kita menyediakan kembali waktu bertukar fikiran?


memaafkan tetapi tidak melupakan, kemudian membenci seumur hidup,  perkara-perkara ini berlaku pada semua orang yang ada dalam hidupmu? 
tadi, aku sedang mengingati macam sikapmu ini
lantas beberapa jam kemudian kau menanyakan siap yang ku benci?aku tidak sedang membenci siapa-siapa. hanya sedang teringat absurditasmu.note bergaris miring ini kutuliskan karena tak ingin ku biarkan kekepoanmu tak terjawab,huh. tak seperti kau, yang membiarkan ku dengan berbagai pertanyaan tak terjawab.BAGAIMANA BISA KAU PERLAKUKAN AKU SEPERTI ITU?!setidaknya aku tau, hingga detik ini toh tak ada cerita yang kita ceritakan secara lugas.


mungkin semua yang kau tertawakan, kau bilang pikiran yang terlalu jauh pada akhirnya hanya kau tempatkan pada sebuah frase bernama masa bodoh. boleh aku memaki mu sekali lagi?

kau selalu merasa aku tak bisa memahamimu, memangnya kau pernah menilik seberapa paham kau akan aku? ah, seperti katamu itu pasti hanya mimpiku untuk kau pahami, toh untuk apa kau mencoba memahamimu, bukankah tak jadi kewajibanmu menjaga apa yang ada pada diriku, bukan kah menurutmu aku mencinta begitu saja, lalu mau menjalaninya dengan begitu-begitu saja bangsat? bahkan ketika aku hilang karena kejadian buruk pun kau tak kan mencariku, kau dengan mudah menghilangkanku begitu saja. so let yourself enjoy life.

kau masih menyimpan dan menaruh banyak praduga negatif dan tak baik terhadapku bukan? apalagi dengan caramu diawal yang mengetahuiku tanpa mengenalku.

kau selalu menganggapku lelah jika menggugat tingkah lakumu padaku, sampai pada batas ini aku masih tak mengerti bagaimana jalan pikiranmu ini. bukan kah menghargaimu sebagai manusia bukan berati aku harus tunduk padamu. bukan berarti semua jalan cinta ku padamu 'yang sering kau klaim memikirkannya sendiri' ini kau yang menentukan. sebagai manusia yang setara tentu saja aku akan menggugatmu baik secara pemikiran maupun sikap, yang bangsatnya justru aku malah menangis meraung-raung dihadapanmu, meronta-ronta memintamu bicara, memohon agar tak diabaikan, bayangkan betapa rendah nya telah kuturunkan harga diriku ini demi kau bangsat. lalu, yang kau tangkap dan kau resapi dari sikapku justru hanya sebagai ekspresi kelelahanku lah, kebosananku dalam rutinitas mencintaimu lah, ketakmampuan yang tetap kupaksakanlah, kesudah tidak sanggupan ku bersabar memberi waktu dan menghadapimulah, hei Kau, kapan pemikiran mu ini akan berkembang dan tak sekedar berkutat pada hal-hal yang bahkan tak kupikirkan itu. tak cukup tangisan-tangisanku hanya kau jatuh kan pada arti menggemaskan, menggeregetkan. tapi jika kau berbahagia dengan cara itu, lakukanlah.

kau berfikir telah banyak mengalah menghadapiku, aku berfikir telah banyak mengalah menghadapimu, kau telah banyak mengalah menghadapiku, aku berikir telah banyak mengalah menghadapimu, aku yakin beberapa hal telah kita lakukan demi kebaikan bersama sayang nya tak dikomunikasikan dengan baik bersama. aku dan kau, sangat masing-masing.

kau anggap cintaku hanya aku saja yang jadi patokannya, lalu siapa lagi jika bukan diriku sendiri? jadi kapan kau bersedia turut membahasnya bersamaku?

mengulangi menghadapi pagi, bahagia kau menjadi pagi yang di nanti?

kita berada pada epos yang sama, namun tak bersama-sama.

aku dan tanya yang berkawan dalam setiap tulisan..

lalu, sudah tau kau kenapa kau selalu kutuliskan?

Senin, 22 Juni 2015

ia yang berjudul (sisa) MARAH





dasar. dimulai dengan omelan dan cacian dalam hati.
diletakkan pada masa depan malah kau tertawakan, malah kau bilang tak usah muluk-muluk, tak usah jauh-jauh.
begitulah, saya bukan type orang yang 'jalani saja apa yang ada didepan mata'.
lalu berbagai masa depan yg kurangkai 'sendiri' hanya kau tertawakan, kau anggap mimpi, lalu untuk apa kau pertanyakan? untuk kembali ditertawakan?

kamu adalah mimpi, seperti yang sempat ku ucap malam tadi, lalu saya berusaha mewujudkan mimpi, sementara kamu, TAK MAU DIWUJUDKAN. baiklah, ini harus kutertawakan dengan sinis.
apa diulangi lagi untuk menciptakan memori sendiri-sendiri. yah, jangan pernah percaya aku sepenuhnya, percayalah secukupnya saja, lalu meragulah sekedarnya pula.

ah lucu, apa kau siap akan raungan air mata lagi, jika nanti kemudian terulang lagi.
sekali lagi aku benci jika kau ucap lelah, karena aku tak lelah tapi kau ulangi lagi ucapanmu.
memangnya tak boleh menangis jika sedih? memangnya aku harus mendiamkan segalanya sepertimu. huh, aku bukan kau! mau sampai kapan kau tak utara kan sepatah saja yang ingin dikatakan, bahkan jika aku memohon. tolong pinjami aku kunci untuk membuka bahkan mencongkel mulutmu itu, agar kata hatimu keluar.

aku menangis. kau tertawa. aku meraung. kau tertawa. tertawakan saja semua selagi kau mampu hai kau yang katamu kutuangkan hanya dalam tulisan-tulisan pendek yang tak ada hebat nya. 

ah, kau sampai kapan kau mampu, sanggup dan mau menampung kecintaanku padamu? wahai kau yang terlalu biasa mencintai dengan membiarkan cinta tumbuh dan terus bertumbuh begitu-begitu saja bukan, setidaknya itu yang kau ceritakan.

ARE U HAPPY NOW MAEJA?

selama kau masih menyisakan benci untukku maka selama itu pula kau harus berada bersamaku melulu. jadi, sisakan saja bencimu selalu. karena jika bencimu hilang justru kau akan semakin lebih harus bersamaku melulu, untuk hal ini aku selalu memaksa!






Selasa, 16 Juni 2015

bukan begitu cinta? bukan begitu vroh ☺


bagaimana bisa bersama? pinangan dan lamaran ku saja belum kau konfirmasi cinta ♥


bahagia.

sesederhana ketika kau ada dihadapanku :)

katamu, jarak yang tercipta telah otomatis menjauhkan kita. kataku, tidak demikan.. bukan kah alam semesta dan segala keterhubungannya telah berbaik hati mendekatkan kita selalu, aku percaya itu, keterhubungan kita ditunjukkan dari kepindahan ku yang katamu menjadikan jarak semakin jauh membawamu foto KTP jauh-jauh kemari lalu kita kembali mendekap erat. bukan begitu cinta, bahkan foto KTP yang diundur membawamu dapat ku peluki lagi nantinya hihii... bukan begitu cinta? sepatutnya kah saya ikut berterima kasih pada alam semesta yang kau percayai ini cinta ☺

aku bukan orang romantis yang akan meminangmu dengan cara yang romantis pula vroh :D


ini tulisan 5 hari yang lalu dan sayang jika dibuang, maka aku meilih untuk meneruskan nya ☻

lalu ternyata ia terbengkalai hingga 7 hari lagipasca 5 hari sebelumnya tertunda penyelesaian nya..
JADI, sudah terbengkalai 12 hari, ketika baris ini diketik, lalu berapa hari lagi kira-kira jadinya? haha


tapi, cinta pada mu tak pernah tertunda :)