Pages

Ads 468x60px

Labels

About Me

Foto Saya
tulisan, untuk semua. hanya tulisan, untuk semua | kisah biasa yang di tulis oleh seseorang yang bukan penulis | berlawan | mencintai perjuangan pembebasan manusia | hobi foto-foto | benci diskriminasi |

Featured Posts

Senin, 24 November 2014

Mengutip banyak kata.
Kata-kata tenar yang berserak "aku tak pernah berjanji untuk sebuah perasaan"

Begitulah perjalanan biasa ini.
Seperti biasa.
Hanya biasa.
Sudah biasa.
Sisa biasa.

Tidak ada harapan.
Tak baik berharap.
Tak ada apa-apa.
Tak ada sisa.

Seperti itu lah.

Perjalanan biasa.

Seperti biasa.
Hanya biasa.
Sudah biasa.
Sisa biasa.

Biasa berlabuh.

Biasa berlayar.

Dengan hati tertinggal di bakar matahari.
Hati yang kadaluarsa.
Hati yang tak berlaku.
Cerita yang tak berlaku.
Cerita biasa.





Minggu, 11 Mei 2014

yang sedang menata kenangan

aku mendengari mu setiap waktu,
mendengari merdumu, nada sumbangmu, tertawamu, tangismu, nyanyianmu, rengekkanmu..
walau tanpa kau ketahui, walau tanpa pemberitahuan yang berlalu..

ini bukan tentang cerita yang dimulai dari mengejar cinta..




Minggu, 04 Mei 2014

rindu tanpa judul.

Karena begitu banyak rindu dan senja yang kita habiskan dgn berjauhan... 
Terima kasih telah membawaku dalam perjalanan kala itu,
empat hari yang membawaku untuk lebih lama lagi memelukmu, menggenggam tanganmu,.
memandangi wajahmu mmenjelang malam,
lalu kembali memandangimu, memelukmu dan menciummu di awal pagi.. 
pagi yang menjadi pagi kita d awal hari..

entah berapa banyak rindu lagi utk membawa q menemuknmu.. 
menemukan waktu yang mempertemukan kita diantara rindu yang tercecer cecer... 
lalu rindu adalah semua jarak yg sedekat hati ku dan hatimu... 

Aku sedang rindu, rindu yang tak sama dengan rindu yang terdahulu...
kali ini aku rindu berbagi tempat tidur, berbagi selimut, berbagi bantal,
berbagi kedinginan, berbagi kehangatan, berbagi dunia... 

Hari ini senja menulis rindu yang tak tepat waktu untuk kesibukanmu
Hei kekasihku, aku membatasi waktu ku untuk mengumbar rindu ini hingga 18.19 wita.. 
selebihnya, kau harus menahan diri utk menemukan q yang merindumu... 1
8.19 yg masih 40 menit ini akan q vulgar kan si rindu ini. 
Rindu yg bukan hanya kesekian kali, tp kesetiap hari.. 
terima kasih banyak kau masih bersedia membaca rindu ini..

Kau tau ini hari apa.. ini hari minggu pertama ku yg tanpa memelukmu... 
apa kau tau bagaimana rasa nya sayang?
Kau tau ini hari apa?..
ini hari kelima pasca kau mengantar kepergian q pagi itu... 
kau tau bagaimana rasa x? 
Kau tau ini hari apa? 
Ini masih hari yang sama seperti tanggal 4 sembilan bulan yang lalu.... 
hari yang mengantarkan kita untuk saling menemukan... 
Kau ingat 4 agustus tahun lalu sayang? Hari dimana kau tak sengaja menyapa q dgn kata kata mu.. 
kau ingat 6 agustus tahun lalu sayang.. hari di mana kita pertama kali saling mendengarkan.. kau ingat 8 agustus tahun lalu sayang? Saat rawon q gosong satu panci? 
Kau ingat 5 april bulan lalu sayang... hampir satu bulan berlalu namun aq masih terbayang oleh wajah mu yg pertama kali terlihat tanpa jarak. Ya, kita pernah berada tanpa jarak.

Kau masih ingat lari lari kecil q itu sayang? 
Lari lari kecil yg seolah tak rela ketika lama sekali kau sampai dihadapanku.
Lalu peluk kecil itu, peluk yg sebenar x tak ingin q lepaskan sedetik pun :') 
Sayang, kalau kau mulai bosan dan lelah membaca semua kalimat q tolong bilang, agar aku sudahi.
Sayang, tak perlu berpikir dalam utk membalas semua kalimat rindu yg berserakan ini

Sayang, masih banyak yang belum kita lakukan bersama... 
mari kita ulangi lagi pertemuan kita... 
Aku belum puas mendengari suara degub jantung didadamu... 

Kau mengajari cara bertahan dibawah hujan, 
kau menguatkan aku bahwa hidup ini lebih dari sekedar pelukan.. 

Semoga kita dan rindu tak kan saling melupakan.. 
ketika datang satu waktu dimana keberadaan q sudah tak lagi menjadi sesuatu yg memudahkan hari mu, 
segera beri tau pada q.. 

Sayang, ini sudah 18.11 .. 8 menit lepas menuju 18.19

Kau ajari aku dalam pilihan ini, semestinya duka tak seharusx lg berlabuh.. 

Ini senja yang terlalu erat memeluk rindu sayang.. 
berterimakasih lah pada jarak yang telah mengajari rindu yang tetap hidup.. 
rindu yg mengantarkan q pada senyuman dan rona wajah mabuk mu.. 
rindu yg mengantarkan pada 18.19 kita...



Jumat, 20 Desember 2013

22 DESEMBER HARI IBU NASIONAL



MOMENTUM BAGI KAUM PEREMPUAN UNTUK MEMBANGUN PERSATUAN NASIONAL RAKYAT TERTINDAS


FEMINISM“Di acara berita-berita kriminal di TV, pasti kita saksikan perempuan korban perkosaan. Ada juga berita seorang istri yang memar-memar wajahnya karena baru saja dihajar suaminya gara-gara alasan sepele, lupa memberi garam pada sayuran. Juga tidak kalah sadisnya, berita tentang babu perempuan yang punggungnya disetrika majikannya, gara-gara lupa memasukkan celana dalam ketika hujan turun. Masih dari layar kaca, pelacur-pelacur di jalanan dikejar-kejar petugas trantib—yang dengan kurang ajar, petugas trantib itu meremas-remas payudara pelacur yang ditangkap itu. Tidak kalah mengerikan, berita tentang TKW dari Arab Saudi, yang pulang ke Indonesia dalam keadaan gila bahkan hingga tak bernyawa karena disiksa oleh majikannya yang katanya ber-Tuhan itu.”

Katanya surga berada di bawah telapak kaki ibu (perempuan). Akan tetapi, kenyataanya, perempuan berada di bawah telapak kaki laki-laki.
Perempuan, sejak berabad-abad yang lalu hidup dalam penindasan.
Kenapa ini terjadi?
Bagaimana jalan keluarnya?


Sekilas asal usul peringatan 22 Desember sebagai Hari Ibu.

            Pada tanggal 22-25 Desember 1928, dua bulan setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, diselenggarakan Kongres Pertama Perempuan Indonesia di Yogyakarta, dihadiri oleh sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. Peristiwa ini adalah salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan.
            Penetapan 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Presiden Soekarno menetapkan, melalui Dekrit Presiden Nomor 316 Tahun 1959, bahwa pada 22 Desember adalah Hari Ibu yang dirayakan secara nasional hingga kini. Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini.
Namun, pemerintah Orde Baru Soeharto telah mereduksi secara mendasar peringatan 22 Desember menjadi Hari Ibu sebagai pendamping dan pengurus keluarga belaka--dengan kebaya dan sanggul sebagai simbol ketertundukannya. Hal ini berkesesuaian dengan ideologi penundukan perempuan yang menjadi salah satu tonggak politik Orde Baru yang menempatkan perempuan sebagai pajangan politik dan pengurus rumah tangga belaka (politik Ibuisme).
            Bagi kami Ibu BUKANLAH pendamping suami, pajangan rumah tangga, pemelihara keluarga atau pilar bangsa. Ibu ADALAH pekerja, berupah maupun tak diupah, yang bekerja untuk meneruskan generasi. Kaum Ibu paling berkepentingan, dan harus berada di garis depan, dalam perjuangan mengubah politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan yang merugikan anak-anaknya, sehingga lebih adil, sejahtera, dan setara, tak saja bagi anak-anaknya melainkan seluruh generasi di masa depan.

Senin, 20 Mei 2013

Dibalik Kebangkitan Nasional; Selesaikan Perubahan Dengan Politik Alternatif Rakyat



                                           Oleh : Tim Agitasi Propaganda Politik Rakyat Miskin Kalimantan Timur
  •  Kekuatan Rakyat Menghantar Kemenangan Kecil Reformasi
Sudah 15 tahun pasca sebuah momentum yang disebut “reformasi” -- Menilik kembali sejarah reformasi tentunya akan membawa kita mengingat ingat kembali bagaimana keberhasilan gerakan massa dalam proses pendelegitimasian (pelengseran) kekuasaan Orde Baru kala itu.

Tidak dapat dipungkiri hingga saat ini sebagian kalangan masih ada yang berpendapat dan beranggapan bahwa Indonesia mengalami kemajuan-kemajuan pesat dari masa orba. Padahal ketika sedikit kita ulas kembali kemunculan reformasi, ternyata kesadaran massa rakyat pada saat itu telah dapat melihat dengan jelas bahwa keberhasilan pembangunan melalui program PELITA (pembangunan lima tahun) kebanggaan Orde Baru yang selalu di umbar-umbar pemerintahan, hanyalah sebuah kemajuan pembangunan yang semu belaka. Kemajuan yang mungkin bagi sebagian orang ditunjukkan dengan banyak nya pembangunan-pembangunan infrastruktur negara, tingkat “keamanan nasional” yang tinggi, kemajuan ekonomi yang “stabil” – sementara disisi lain terdapat kesenjangan yang sangat dalam antara golongan kaya dan miskin yang disebabkan cara-cara mengelola SDA negara yang tidak terdistribusi dengan merata ditangan mayoritas rakyat, serta pengelolaan hasil kekuasaan dan kekayaan negara di tangan rezim penguasa korup. Sehingga korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) semakin subur dan merajalelalah di negeri ini.

Protes dan kritik masyarakat seringkali dilontarkan, namun pemerintah Orba seolah-olah tidak melihat dan mendengar. Bahkan masyarakat yang tidak setuju kepada kebijaksanaan pemerintah selalu dituduh subversi, makar dan sebagainya. Hal ini mengakibatkan bercokolnya kekuasaan rezim yang otoriter dan anti demokrasi yang didukung dengan aparatur-aparatur negara bersenjata (kroni-kroni militernya) dengan dalih “stabilitas nasional” membungkam ruang-ruang berpendapat dan berekspresi bagi rakyatnya. Tidak sampai disitu saja GOLKAR sebagai partai yang mendominasi dan selalu dielu-elukan “kebaikan dan kekuatan nya” juga menjadi salah satu alat bagi kekuasaan orde baru melanggengkan kekuasaan politiknya ber puluh-puluh tahun di Indonesia. Hal tersebut menggambarkan bahwa kedaulatan rakyat benar-benar terbatas pada suatu golongan politik penguasa dan kekuasaan otoriter ala soeharto.

Tak mengherankan jika rakyat pada masa itu menginginkan perubahan menyeluruh terkait sistem politik, ekonomi, hukum serta tata sosial yang berlaku di Indonesia. Tuntutan-tuntutan kemudian hadir dengan tekanan politik aksi masa rakyat yang marah untuk mengadili Soeharto dan kroni-kroninya, mengAmandemen UUD 1945, serta menuntut Otonomi daerah yang seluas-luasnya, Supremasi hukum, Pemerintah yang bersih dari Korupsi Kolusi Nepotisme. Bahkan keresahaan terhadap politik militer membuat rakyat semakin berani menuntut  legitimasi ABRI yang memiliki dwifungsi dalam fungsi perpolitikan maupun sosialnya, karena hal tersebut memberikan karakter politik negara kita menjadi semi militer yang komandoistik. Tuntutan-tuntutan ini kemudian semakin sering dan terus disuarakan oleh massa rakyat yang bergerak.

Jumat, 17 Mei 2013

berita aksi IDAHO 2013


SAMARINDA – Kalimantan Timur, 17 Mei 2013 bertepatan dengan momentum untuk memperingati hari peringatan melawan homophobia dan transphobia, Perempuan Mahardhika Kalimantan Timur dan beberapa organisasi yang bersolidaritas menggelar aksi untuk Melawan Segala Bentuk Diskriminasi Berbasiskan Orientasi Seksual dan Identitas Gender di Simpang Empat Mall Lembuswana.





*selebaran idaho 2013 -- samarinda


INTERNATIONAL DAYS AGAINST HOMOPHOBIA & TRANSPHOBIA 2013
LAWAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI BERBASISKAN ORIENTASI SEKSUAL DAN IDENTITAS GENDER
           
Ekspresi identitas seksual modern dapat ditemukan dalam masyarakat yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai Gay, Lesbian, Transgender, Interseks, Biseksual atau Queer yang bahkan mengalami perubahan identitas diri dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Diterapkannya norma-norma heteronormativitas  (seperti Lelaki-Perempuan, Maskulin-Feminin, kemudian diluar itu dianggap tidak alamiah dan melanggar norma/adat/kebudayaan), menyebabkan  ekspresi indentitas seksual yang ber label homoseksual di cap telah melanggar gender secara binari dan dianggap sebagai suatu aib, penyakit, kelainan, bahkan pelanggaran terhadap norma yang telah menjadi konsensus di masyarakat. Padahal sejak tanggal 17 Mei 1981, WHO telah mengeluarkan homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa, dan pada tahun 1992 mengeluarkannya dari daftar klasifikasi penyakit (International Classification Disease).

Presiden Gay Indonesia, Dr. Dede Oetomo, mengungkapkan bahwa secara nasional jumlah kaum homoseksual mencapai 1 % dari total penduduk Indonesia yaitu sekitar 2 juta jiwa. Data statistik ini tidak hanya menambah pengetahuan kita tentang jumlah kaum homoseksual di Indonesia, namun sekaligus menunjukkan eksistensi kaum homoseksual yang harus diakui sebagai bentuk keragaman yang wajar dalam sistem masyarakat. Kaum homoseksual mengalami penindasan yang luar biasa dalam waktu yang lama hingga saat ini. Jika kita menengok kebelakang dan menghitung berapa banyak manusia dihukum dan atau dibunuh hanya karena tindakan seksualitas yang dianggap 'menyimpang' ataupun orientasi dan identitas seksualnya, maka kita akan mendapatkan fakta kejahatan dunia terhadap kaum homoseksual. Masih terdapat banyak nya serangan-serangan dari kubu konservatif yang anti terhadap keberagaman (dtunjukkan dengan maraknya serangan-serangan berbasis SARA) menunjukan tingginya pembungkaman terhadap demokratisasi dinegeri ini dimana kebebasan setiap individu menentukan sendiri hidup maupun identitas seksualnya menjadi tidak dijamin hak kebebasan dan keamanannya oleh negara.