Pages

Ads 468x60px

Labels

About Me

Foto Saya
tulisan, untuk semua. hanya tulisan, untuk semua | kisah biasa yang di tulis oleh seseorang yang bukan penulis | berlawan | mencintai perjuangan pembebasan manusia | hobi foto-foto | benci diskriminasi |

Featured Posts

Jumat, 20 Desember 2013

22 DESEMBER HARI IBU NASIONAL



MOMENTUM BAGI KAUM PEREMPUAN UNTUK MEMBANGUN PERSATUAN NASIONAL RAKYAT TERTINDAS


FEMINISM“Di acara berita-berita kriminal di TV, pasti kita saksikan perempuan korban perkosaan. Ada juga berita seorang istri yang memar-memar wajahnya karena baru saja dihajar suaminya gara-gara alasan sepele, lupa memberi garam pada sayuran. Juga tidak kalah sadisnya, berita tentang babu perempuan yang punggungnya disetrika majikannya, gara-gara lupa memasukkan celana dalam ketika hujan turun. Masih dari layar kaca, pelacur-pelacur di jalanan dikejar-kejar petugas trantib—yang dengan kurang ajar, petugas trantib itu meremas-remas payudara pelacur yang ditangkap itu. Tidak kalah mengerikan, berita tentang TKW dari Arab Saudi, yang pulang ke Indonesia dalam keadaan gila bahkan hingga tak bernyawa karena disiksa oleh majikannya yang katanya ber-Tuhan itu.”

Katanya surga berada di bawah telapak kaki ibu (perempuan). Akan tetapi, kenyataanya, perempuan berada di bawah telapak kaki laki-laki.
Perempuan, sejak berabad-abad yang lalu hidup dalam penindasan.
Kenapa ini terjadi?
Bagaimana jalan keluarnya?


Sekilas asal usul peringatan 22 Desember sebagai Hari Ibu.

            Pada tanggal 22-25 Desember 1928, dua bulan setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, diselenggarakan Kongres Pertama Perempuan Indonesia di Yogyakarta, dihadiri oleh sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. Peristiwa ini adalah salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan.
            Penetapan 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Presiden Soekarno menetapkan, melalui Dekrit Presiden Nomor 316 Tahun 1959, bahwa pada 22 Desember adalah Hari Ibu yang dirayakan secara nasional hingga kini. Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini.
Namun, pemerintah Orde Baru Soeharto telah mereduksi secara mendasar peringatan 22 Desember menjadi Hari Ibu sebagai pendamping dan pengurus keluarga belaka--dengan kebaya dan sanggul sebagai simbol ketertundukannya. Hal ini berkesesuaian dengan ideologi penundukan perempuan yang menjadi salah satu tonggak politik Orde Baru yang menempatkan perempuan sebagai pajangan politik dan pengurus rumah tangga belaka (politik Ibuisme).
            Bagi kami Ibu BUKANLAH pendamping suami, pajangan rumah tangga, pemelihara keluarga atau pilar bangsa. Ibu ADALAH pekerja, berupah maupun tak diupah, yang bekerja untuk meneruskan generasi. Kaum Ibu paling berkepentingan, dan harus berada di garis depan, dalam perjuangan mengubah politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan yang merugikan anak-anaknya, sehingga lebih adil, sejahtera, dan setara, tak saja bagi anak-anaknya melainkan seluruh generasi di masa depan.

Senin, 20 Mei 2013

Dibalik Kebangkitan Nasional; Selesaikan Perubahan Dengan Politik Alternatif Rakyat



                                           Oleh : Tim Agitasi Propaganda Politik Rakyat Miskin Kalimantan Timur
  •  Kekuatan Rakyat Menghantar Kemenangan Kecil Reformasi
Sudah 15 tahun pasca sebuah momentum yang disebut “reformasi” -- Menilik kembali sejarah reformasi tentunya akan membawa kita mengingat ingat kembali bagaimana keberhasilan gerakan massa dalam proses pendelegitimasian (pelengseran) kekuasaan Orde Baru kala itu.

Tidak dapat dipungkiri hingga saat ini sebagian kalangan masih ada yang berpendapat dan beranggapan bahwa Indonesia mengalami kemajuan-kemajuan pesat dari masa orba. Padahal ketika sedikit kita ulas kembali kemunculan reformasi, ternyata kesadaran massa rakyat pada saat itu telah dapat melihat dengan jelas bahwa keberhasilan pembangunan melalui program PELITA (pembangunan lima tahun) kebanggaan Orde Baru yang selalu di umbar-umbar pemerintahan, hanyalah sebuah kemajuan pembangunan yang semu belaka. Kemajuan yang mungkin bagi sebagian orang ditunjukkan dengan banyak nya pembangunan-pembangunan infrastruktur negara, tingkat “keamanan nasional” yang tinggi, kemajuan ekonomi yang “stabil” – sementara disisi lain terdapat kesenjangan yang sangat dalam antara golongan kaya dan miskin yang disebabkan cara-cara mengelola SDA negara yang tidak terdistribusi dengan merata ditangan mayoritas rakyat, serta pengelolaan hasil kekuasaan dan kekayaan negara di tangan rezim penguasa korup. Sehingga korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) semakin subur dan merajalelalah di negeri ini.

Protes dan kritik masyarakat seringkali dilontarkan, namun pemerintah Orba seolah-olah tidak melihat dan mendengar. Bahkan masyarakat yang tidak setuju kepada kebijaksanaan pemerintah selalu dituduh subversi, makar dan sebagainya. Hal ini mengakibatkan bercokolnya kekuasaan rezim yang otoriter dan anti demokrasi yang didukung dengan aparatur-aparatur negara bersenjata (kroni-kroni militernya) dengan dalih “stabilitas nasional” membungkam ruang-ruang berpendapat dan berekspresi bagi rakyatnya. Tidak sampai disitu saja GOLKAR sebagai partai yang mendominasi dan selalu dielu-elukan “kebaikan dan kekuatan nya” juga menjadi salah satu alat bagi kekuasaan orde baru melanggengkan kekuasaan politiknya ber puluh-puluh tahun di Indonesia. Hal tersebut menggambarkan bahwa kedaulatan rakyat benar-benar terbatas pada suatu golongan politik penguasa dan kekuasaan otoriter ala soeharto.

Tak mengherankan jika rakyat pada masa itu menginginkan perubahan menyeluruh terkait sistem politik, ekonomi, hukum serta tata sosial yang berlaku di Indonesia. Tuntutan-tuntutan kemudian hadir dengan tekanan politik aksi masa rakyat yang marah untuk mengadili Soeharto dan kroni-kroninya, mengAmandemen UUD 1945, serta menuntut Otonomi daerah yang seluas-luasnya, Supremasi hukum, Pemerintah yang bersih dari Korupsi Kolusi Nepotisme. Bahkan keresahaan terhadap politik militer membuat rakyat semakin berani menuntut  legitimasi ABRI yang memiliki dwifungsi dalam fungsi perpolitikan maupun sosialnya, karena hal tersebut memberikan karakter politik negara kita menjadi semi militer yang komandoistik. Tuntutan-tuntutan ini kemudian semakin sering dan terus disuarakan oleh massa rakyat yang bergerak.

Jumat, 17 Mei 2013

berita aksi IDAHO 2013


SAMARINDA – Kalimantan Timur, 17 Mei 2013 bertepatan dengan momentum untuk memperingati hari peringatan melawan homophobia dan transphobia, Perempuan Mahardhika Kalimantan Timur dan beberapa organisasi yang bersolidaritas menggelar aksi untuk Melawan Segala Bentuk Diskriminasi Berbasiskan Orientasi Seksual dan Identitas Gender di Simpang Empat Mall Lembuswana.





*selebaran idaho 2013 -- samarinda


INTERNATIONAL DAYS AGAINST HOMOPHOBIA & TRANSPHOBIA 2013
LAWAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI BERBASISKAN ORIENTASI SEKSUAL DAN IDENTITAS GENDER
           
Ekspresi identitas seksual modern dapat ditemukan dalam masyarakat yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai Gay, Lesbian, Transgender, Interseks, Biseksual atau Queer yang bahkan mengalami perubahan identitas diri dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Diterapkannya norma-norma heteronormativitas  (seperti Lelaki-Perempuan, Maskulin-Feminin, kemudian diluar itu dianggap tidak alamiah dan melanggar norma/adat/kebudayaan), menyebabkan  ekspresi indentitas seksual yang ber label homoseksual di cap telah melanggar gender secara binari dan dianggap sebagai suatu aib, penyakit, kelainan, bahkan pelanggaran terhadap norma yang telah menjadi konsensus di masyarakat. Padahal sejak tanggal 17 Mei 1981, WHO telah mengeluarkan homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa, dan pada tahun 1992 mengeluarkannya dari daftar klasifikasi penyakit (International Classification Disease).

Presiden Gay Indonesia, Dr. Dede Oetomo, mengungkapkan bahwa secara nasional jumlah kaum homoseksual mencapai 1 % dari total penduduk Indonesia yaitu sekitar 2 juta jiwa. Data statistik ini tidak hanya menambah pengetahuan kita tentang jumlah kaum homoseksual di Indonesia, namun sekaligus menunjukkan eksistensi kaum homoseksual yang harus diakui sebagai bentuk keragaman yang wajar dalam sistem masyarakat. Kaum homoseksual mengalami penindasan yang luar biasa dalam waktu yang lama hingga saat ini. Jika kita menengok kebelakang dan menghitung berapa banyak manusia dihukum dan atau dibunuh hanya karena tindakan seksualitas yang dianggap 'menyimpang' ataupun orientasi dan identitas seksualnya, maka kita akan mendapatkan fakta kejahatan dunia terhadap kaum homoseksual. Masih terdapat banyak nya serangan-serangan dari kubu konservatif yang anti terhadap keberagaman (dtunjukkan dengan maraknya serangan-serangan berbasis SARA) menunjukan tingginya pembungkaman terhadap demokratisasi dinegeri ini dimana kebebasan setiap individu menentukan sendiri hidup maupun identitas seksualnya menjadi tidak dijamin hak kebebasan dan keamanannya oleh negara.

terlambat dipublikasi


SAMARINDA—Kalimantan Timur.  Senin, 22 April 2013 bertepatan dengan respon politik momentum Hari Bumi Sedunia, Konsolidasi Rakyat Menggugat Tambang Anti Rakyat (KRAMAT) menggelar aksi kampanye untuk menolak tambang anti rakyat di seputaran jembatan Mahakam dengan menggelar spanduk tuntutan yang panjangnya hampir mencapai 30 meter. Aksi dimulai dengan longmarch berawal dimasjid Darun Ni’mah sekitar pukul 10.00 WITA menuju Jembatan Mahakam yang menjadi jalur akses modal di kota Samarinda.

Dalam aksi ini selain memaparkan berbagai contoh problem khusus eksplorasi Sumber  Daya Alam di KalTim seperti  71% daratan Samarinda yang merupakan ibukota provinsi adalah lahan tambang yang menyebabkan berbagai macam problem banjir, debu, kerusakan jalan serta masalah-masalah kesehatan bagi masyarakat, KRAMAT juga menyatakan problem umum masyarakat dimana pemerintah beserta jajaran birokrasinya selalu saja hanya pro terhadap eksplorasi kapitalis yang  berkepentingan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya namun tak pernah ramah terhadap lingkungan apalagi terhadap rakyat nya, sehingga rakyat hanya mendapatkan hadiah berupa kehancuran lingkungan, perusakan dan pencemaran sumber air bahkan hingga berbagai kasus pelanggaran HAM oleh aparatur aparatur keamanan negara seperti polisi, militer, ormas reaksioner, preman bayaran  pun dirasakan oleh rakyat yang menjadi korban dampak eksplorasi lingkungan.

Dari berbagai problematika rakyat hari ini KRAMAT menuntut nasionalisasi segala aset tambang dibawah kontrol rakyat, tanah dan modal untuk rakyat, teknologisasi murah dan massal untuk seluruh rakyat, industrialisasi nasional di bawah kontrol rakyat serta melawan kriminalisasi terhadap warga masyarakat yang berada diberbagai lokasi sengketa lahan.
KRAMAT juga menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untukbergabung dalam barisan perlawanan menggugat tambang anti rakyat, tidak hanya di Samarinda tapi juga diseluruh Indonesia untuk terlibat dalam solidaritas perlawanan-perlawanan rakyat sebagai syarat pembangunan kekuasaan rakyat  dinegeri ini.

Senin, 06 Mei 2013

Saatnya Menyatu Dalam Derap Langkah Perlawanan..




Lawan Kapitalisme Perusak Alam
Bangun Kekuatan Politik Rakyat, Lepas Dari Elit Dan Parpol Politik Peserta Pemilu 2014

Oleh : Yosua

Sudah lebih dari 68 tahun indonesia merdeka, lepas dari negara-negara kolonialis yang menjajah manusia serta menjarah hasil alam negri ini, sudah cukup lama pulalah bangsa(nation) ini berproses, menuju arah tujuan bangsa yang mampu memberikan rasa aman,kesejahteraan dan damai kepada warga negaranya. Sedikit penggalan sejarah tentang kemunculan identitas bangsa ini di mulai dari masa yang biasa di sebut-sebut sebagai masa pra kemerdekaan s/d reformasi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem ekonomi politik yang di terapkan dewasa ini. 

Rabu, 03 April 2013

about us and trust.


 Aku masih ingat betapa malam itu niatku begitu kuat untuk tidak akan lagi menulis sesuatu apapun untukmu. Ya, kesedihan dan kekecewaan yang terlalu dalam atas ‘kehilanganmu’ membuatku ingin segera melupakan semuanya tentangmu. Semuanya. Tapi aku sadar, aku lupa akan sesuatu hal. Aku lupa bahwa seringkali aku meniatkan sesuatu dengan begitu kuatnya, tapi sesering itu pula aku tak sanggup melakukannya. Mungkin itu yang membuatmu selalu menyebutku “tak sesuai”.

Jika saja kau memberikan lebih banyak waktu untuk kita berbicara malam ini, mungkin aku tak perlu menuangkan semua ini ke dalam sebuah tulisan. Tulisan, yang kali ini mungkin tak akan lagi kau beri judul “balasan surat kekasih”.

Tadinya aku mau mengungkapkan segala celotehan di dada ini, yang kupendam sejak kemarin. Rasanya dadaku sesak, seperti ingin sekali memuntahkan semua rasa agar aku bisa lebih mudah bernapas. Tapi hingga kuputuskan untuk menulis lagi malam ini, kurasa aku tak akan menghujani pikiranmu dengan keluhan-keluhanku yang bisa membebanimu. Tidak. Karena tak sekali pun aku ingin kamu merasakan sesak seperti yang kurasakan.

Ada hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan ketika kita mencintai seseorang : percaya. Dan meski aku adalah seorang pecinta, mempercayai adalah suatu hal yang sangat sulit kulakukan sejak dulu. Ya, sejak aku kecil. Sejak aku dibentuk dengan pemahaman bahwa ‘hanya aku yang bisa melakukan segalanya dengan sempurna’. Dan sejak itulah aku tak pernah bisa merasakan kesempurnaan.